Kamis, 17 Januari 2013

Pengenalan angka dan huruf pada anak usia dini


Memperkenalkan huruf dan angka pada anak tidak dapat dipisahkan dari kegiatan
menanamkan konsep bilangan dan lambang bahasa itu sendiri. Betapa pun rumit dan
sederhananya sebuah lambang, ia tidak tidak begitu bermakna manakala konsep yang
dikandung tidak tercerna anak.
Guru mungkin dapat mencecar hafalan anak (drill) hingga mereka menghafal huruf
dan angka dari 1 hingga 20, dari A hingga Z. Meskipun demikian, hal itu tidak otomatis
menunjukkan pemahaman mereka tentang konsepnya. Bagi anak, memahami sepenuhnya
serta mengingat apa-apa yang telah mereka pelajari melalaui membaca, matematika, atau yang
lain, informasi itu haruslah bermakna bagi anak dalam konteks pengalaman dan
perkembangan anak (Bredekamp, 1992:53).
Mempelajari informasi dalam konteks yang bermakna tidak hanya esensial bagi
pemahaman dan perkembangan konsep anak, tetapi juga penting untuk menstimulasi
(merangsang) motivasi pada diri anak. Jika pembelajaran relevan dengan dunia anak, mereka
akan dengan senang hati bertahan dalam kegiatan itu dan termotivasi untuk mempelajarinya
lebih jauh.
Oleh karena itu sangat penting bagi guru untuk memberi kesempatan kepada anak
untuk melihat bagaimana membaca dan menulis itu bermanfaat sebelum mereka dibelajarkan
bentuk dan nama huruf, angka, dan kata-kata. Hal itu seharusnya bermakna bagi anak.
Artinya, huruf, dan angka tersebut harus dimanfaatkan oleh anak dalam khidupan riil seharihari.
Sejumlah aktivitas dilakukan demi mengembangkan bahasa (language) dan
keberaksaraan (literacy) termasuk baca-tulis melalui pengalaman-pengalaman yang
bermakna, seperti menyimak/ membaca cerita, karyawisata, mendiktekan cerita, melihat
* Disajikan di IGTKI Kabupaten Sleman
di Tempel-Sleman, Selasa, 8 Juli 2003
bagan-bagan di kelas, melihat bahan-bahan cetak lain, berpartisipasi dalam bermain dramatik/
yang memerlukan komunikasi, berbicara/berkomunikasi secara informal dengan sesama
mereka dan dengan orang dewasa, mencoba menulis dengan menggambar, meniru, dan
menemukan ejaan mereka sendiri.
Sebaliknya, sangat tidak disarankan melaksanakan pembelajaran membaca dan menulis
yang ditekankan pada pengembangan keterampilan yang terpisah-pisah seperti :
• mengenal huruf-huruf tunggal
• menghafal abjad
• menyanyikan nyanyian abjad
• mewarnai gambar yang sudah diberi garis sebelumnya diajari bentuk-bentuk huruf
yang benar pada suatu garis yang sudah dicetak.
Tujuan program bahasa dan beraksara (language and literacy program) seharusnya
digunakan untuk mengembangkan kemampuan anak dalam berkomunikasi verbal melalui
membaca dan menulis, dan untuk menikmati aktivitas itu sendiri. Keterampilan dan
subketerampilan teknis diajarkan sebagai kebutuhan untuk mencapai tujuan yang lebih besar,
dan bukannya menjadi tujuan itu sendiri. Guru menyediakan cukup waktu dan variasi
kegiatan yang menarik bagi anak untuk mengembangkan kemampuan bahasa, menulis,
mengeja, dan membaca melalui :
• membaca atau bacaan sastra dan nonfiksi anak yang berkualitas demi
kesenangan dan informasi
• menggambar, dikte, dan menulis tentang aktivitas atau fantasi mereka;
• merencanakan dan mengimplementasikan proyek-proyek yang didasarkan
pada riset yang memiliki tingkat kesulitan yang sesuai;
• mengkreasikan karangan guru atau tulisan…
• mendiskusikan apa yang barusan dibaca;
• menginterview beberapa orang guna memperoleh informasi untuk proyek;
• membuat buku dari berbagai variasi (buku teka-teki, buku “apa itu”, buku
tentang binatang kesayangan)
Guru Taman Kanak-kanak dewasa ini berada dalam labirin simalakama. Tuntutan
orang tua dan masyarakat serta budaya “test” masuk SD membuat para guru memacu anak
didik mereka. Guru yang tidak cukup memiliki keyakinan kuat, akhirnya memilih pendekatan
akademik. Anak dibelajarkan sedemikian rupa sehingga mereka cepat menunjukkan prestasi
akademik yang dapat dibanggakan orang tua dan sekolah. Guru cenderung menekankan
penguasaan pengetahuan dan keterampilan tertentu : baca, tulis, hitung, dan menghafal
sejumlah fakta. Kurikulum terancang sistematis, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga
teknik evaluasi. Masa-masa emas anak dimanfaatkan dengan memacu anak menguasai materi
tertentu sesuai jadwal, termasuk menguasai tata cara menulis dan berhitung yang cepat.
Pendekatan akademik seperti di atas memang, sepintas, tampak menjanjikan.
Meskipun demikian, disadari atau tidak, guru dan orang tua telah ‘mematikan’ kreativitas dan
minat anak dalam berbagai hal. Peran anak sebagai subjek didik terabaikan, proses dan hasil
belajar kurang bermakna, dan anak cenderung memiliki sikap negatif terhadap kegiatan
belajar itu sendiri, merupakan efek negatif pendekatan pembelajaran ini. Penelitian di UI
menunjukkan, anak yang dipacu dengan pendekatan ini menjadi pintar di kelas 1, 2, dan 3.
Meskipun demikian, terjadi penurunan karena makin lama mereka makin tidak pintar
(Semiawan, 2002:23).
Pertanyaan yang tersisa sekarang adalah : Bagaimanakah cara yang paling tepat untuk
memperkenalkan lambang bahasa dan matematika (huruf dan angka) pada anak? Jawaban
yang pertama adalah dengan menunggu kemunculan atau emergentnya pada anak. Kedua,
dengan menstimulasi melalui konteks yang dikenal dan disukai anak. Ketiga, dengan
memberikan pajanan yang kontinyu dan integralistik. Keempat, dengan mengintegrasikan ke
dalam kegiatan bermain. Ini berarti, tidak dibenarkan mengajarkan menulis huruf dan angka
tanpa kebermaknaan pada anak, lepas-lepas, bertarget, dan tidak melibatkan peran serta anak.
A. Pengenalan Huruf untuk Persiapan Baca Tulis
Huruf merupakan simbol sekunder bahasa. Bagi anak, kehadiran huruf memiliki
makna hanya jika huruf-huruf itu mereka perlukan dalam kehidupan berbahasa. Anak-anak
perlu mengenal huruf karena mereka tertarik membaca nama toko, nama jalan, tulisan
peringatan, merk, cerita singkat bergambar, judul film anak-anak, dan alamat surat. Anakanak
mungkin juga perlu mengenal huruf karena mereka tertarik untuk menulis identitas diri,
menulis pesan singkat, atau mencatat hal-hal yang mereka sukai. Oleh karena itu, materi
menulis dan membaca harus dimulai dari minat dan kebutuhan anak itu, dan bukan dari teks
artifisial.
Huruf tidak dapat berdiri sendiri. Huruf hadir dalam rangkaian yang disebut kata.
Kata hadir dalam untaian kalimat. Kalimat berhulu dari konteks. Pembelajaran haruslah
bermuara kepada konteks itu sendiri. Dengan demikian, untuk memperkenalkan huruf A
misalnya, guru harus berangkat dari kontekstualisasi atau pengkonteksan. Guru dapat mulai
dari interaksi tentang binatang piaraan, ayam misalnya, dan menajam ke dalam bagian kata
ayam, yakni “Kata ayam itu dimulai dengan huruf A” (lihat juga Amstrong, 2002). Dari sini,
semua huruf dapat diperkenalkan kepada anak sebagai bahan identifikasi visual.
Kegiatan pengenalan huruf juga melibatkan proses penciptaan (menggambar huruf).
Pembelajaran ‘menggambar’ ini harus pula dikaitkan dengan syarat kebermaknaan. Goresangoresan
yang melatih motorik halus anak perlu dikaitkan dengan tema tertentu yang dikuasai
anak. Kegiatan menggambar pagar (untuk persiapan motorik halus menulis huruf) jauh lebih
bermakna daripada membuat garis bobok dan garis berdiri (lebih lanjut lihat Tangyong, dkk,
1994). Demikian juga menggambar garis hujan tersapu angin lebih bermakna bagi anak
daripada menulis garis miring.
Pengenalan huruf tidak dapat dipisahkan dari tingkat perkembangan membaca dan
menulis anak. Adapun Tingkat perkembangan menulis anak menurut Temple dkk (via
Brewer, 1995:220) adalah sebagai berikut.
(1) Scrible Stage (Mencoret/ membuat goresan)
Pada tahap ini anak membuat gambar yang belum terlihat jelas
(2) Linear Repetitive Stage (pengulangan linier)
Tulisan anak tersusun dari garis horisontal. Ada “ kata” yang panjang, ada kata
yang pendek.
(3) Random Letter Stage (Huruf Acak)
Huruf dijajar belum membentuk kata (tapi bagi anak sudah dianggap kata)
(4) Letter-nama Writing / Phonetik Writing (Menulis Nama /Bunyi)
Tulisan seperti bunyinya, seperti apa yang didengarnya : Juwal (jual)
(5) Transitional Spelling
Anak mulai ‘mengenal’ sistem standar tapi kadang kembali ke sistem bunyi.
(6) Conventional Spelling
Anak dapat menulis ke bentuk standar
Pengenal huruf juga harus memperhatikan tingkat perkembangan membaca anak. Ini
berarti memperkenalkan huruf harus melihat pada tingkat apa anak dapat menunjukkan
pemerolehan bacanya. Tingkat perkembangan membaca, menurut Cochrane (via Brewer,
1995:218) adalah sebagai berikut.
(1) Magical Stage
(anak berpikir bahwa buku penting)
(2) Self Concept Stage
(Pura-pura membaca)
(3) Bridging Reading Stage (membaca gambar)
(Tulisan diperlakukan seperti gambar; menemukan satu dua kata yg dihafal)
(4) Take-off Reader Stage (pengenalan bacaan)
(anak menggunakan grafofonik, semantik, sintaktik ; mulai senang membaca
label, nama, iklan, tulisan dalam kemasan)
(5) Independent Reader Stage (lancar)
(Anak dapat membaca dengan baik. Dapat menyerap informasi, dapat
memperkirakan bahan bacaan)
(6) Skilled Stage (Terampil)
(7) Advances Skilled Stage
2. Deteksi Kemunculan Keberaksaraan Anak
Untuk memulai “membelajarkan” anak membaca dan menulis, guru perlu mendeteksi
ciri-ciri kemunculan keberaksaraan pada anak. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut.
• Anak mulai senang buku, membukanya
• Anak sering mencoret-coret
• Anak menulis huruf-huruf
• Anak menulis namanya sendiri
• Anak pura-pura membaca
• Anak minta dibacakan cerita/buku
• Anak senang bercerita (dg bhs sendiri)
• Anak meniru tulisan
• Anak membuat tulisan di bawah gambar
• Anak dpt menceritakan gambar sendiri
• Anak minta dituliskan apa yg dipikirkan
• Anak ikut serta aktivitas membaca ortu
• Anak membaca tulisan di jalan
• Anak mulai mengeja tulisan di majalah
• Anak mulai senang mengajak ortu ke pusat koran dan majalah
• Anak bertanya ttg maksud kalimat
(emergent literacy didukung oleh ketersediaan bahan bacaan, stimulasi lingkungan, dan
aktivitas orang dewasa di sekitar anak)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar